Eksplorasi bagaimana kesantunan berbahasa mempengaruhi penerjemahan dari bahasa Prancis ke bahasa Indonesia.
Proses penerjemahan dari bahasa Prancis ke bahasa Indonesia tidak hanya sekadar mengalihkan kata-kata, tetapi juga melibatkan pengalihan budaya. Budaya penerjemah sangat mempengaruhi bagaimana pesan dari bahasa sumber dipahami dan diungkapkan kembali. Ini adalah tantangan yang dihadapi oleh penerjemah karena perbedaan budaya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran sering kali menempatkan mereka pada posisi dilematis.
Menurut Prof. Dr. Drs. Sajarwa, M.Hum., seorang Dosen Prodi Sastra Prancis, salah satu aspek penting dalam penerjemahan adalah kesantunan berbahasa. Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar di Universitas Gadjah Mada, beliau menekankan pentingnya aspek ini dalam penerjemahan. Kesantunan berbahasa adalah cara bertindak dan berucap yang dianggap sebagai aturan perilaku sosial dalam suatu masyarakat.
Kesantunan Berbahasa: Muka Positif dan Negatif
Kesantunan berbahasa berkaitan erat dengan konsep muka, yang dibagi menjadi muka positif dan muka negatif. Muka positif adalah keinginan untuk diterima dan dihargai, sementara muka negatif adalah keinginan untuk tidak diganggu dan dihormati privasinya. Dalam konteks ini, kesantunan berbahasa berfungsi untuk memelihara dan menyelamatkan muka dari ancaman.
Perbedaan kesantunan berbahasa antara bahasa Prancis dan bahasa Indonesia menjadi salah satu fokus Sajarwa. Misalnya, penggunaan kata ganti orang 'vous' dalam bahasa Prancis menunjukkan kesejajaran antara penutur dan mitra tutur, meski hubungan interpersonal mereka tidak dekat. Sebaliknya, dalam bahasa Indonesia, penggunaan kata ganti 'anda' justru menunjukkan ketidakseimbangan dan jarak sosial antara penutur dan mitra tutur.
Manajemen Muka dalam Penerjemahan
Sajarwa juga membahas tentang manajemen muka, yaitu upaya seseorang untuk mempertahankan atau meningkatkan citra diri di hadapan orang lain. Setiap budaya memiliki norma dan nilai yang berbeda dalam menjaga muka. Misalnya, budaya Barat yang individualis cenderung menggunakan muka positif, sedangkan budaya Timur yang kolektivis, seperti Jepang, Korea, dan Indonesia, lebih cenderung menggunakan muka negatif.
Perbedaan ini menambah kompleksitas dalam penerjemahan karena penerjemah harus memahami dan menyesuaikan strategi komunikasi sesuai dengan norma budaya sasaran. Kesalahan dalam memahami atau menerapkan kesantunan berbahasa dapat mengubah makna dan nuansa pesan yang ingin disampaikan.
Sajarwa berharap bahwa kajian mengenai kesantunan berbahasa dan manajemen muka dapat diperluas. Beliau menekankan bahwa masih banyak topik yang dapat dieksplorasi, terutama yang berkaitan dengan isu gender dan kekuasaan. Ini adalah bidang studi yang masih terbuka lebar untuk penelitian lebih lanjut.
Dalam dunia penerjemahan, memahami kesantunan berbahasa dan manajemen muka bukan hanya soal bahasa, tetapi juga soal memahami manusia dan budaya mereka. Ini adalah jembatan yang menghubungkan dua dunia yang berbeda, memungkinkan komunikasi yang lebih efektif dan bermakna.