Edukasi

Tantangan Pengembangan Obat Alami di Indonesia: Minimnya Ahli Botani dan Farmakognosi

Keanekaragaman Tumbuhan Indonesia

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati yang melimpah, termasuk lebih dari 20.000 spesies tumbuhan yang telah teridentifikasi. Namun, hanya sekitar 200 spesies yang dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan baku obat alami maupun sintetis. Minimnya ahli botani dan farmakognosi menjadi salah satu faktor penghambat dalam pengembangan bahan obat alami ini.

Baca juga : Gianluigi Donnarumma Menjadi Pahlawan Manchester City dengan Penyelamatan Krusial

Tantangan Industri dan Regulasi

Dalam sebuah kuliah umum yang diadakan oleh Fakultas Farmasi UGM, Dr. Yosi Bayu Murti dan Prof. Michael Heinrich membahas tantangan yang dihadapi dalam pengembangan obat bahan alam (OBA). Salah satu tantangan utama adalah menurunnya industri manufaktur dari bahan baku tumbuhan. Selain itu, proses produksi sering kali bergantung pada musim, yang mempengaruhi kualitas bahan baku.

Bayu menekankan pentingnya transformasi tanaman obat menjadi obat modern, meskipun proses ini membutuhkan waktu dan upaya yang panjang. Diperlukan penyediaan bahan baku berkualitas dan sertifikasi standar untuk OBA. Selain itu, perubahan regulasi kebijakan diperlukan untuk memudahkan pengembangan OBA di kalangan dokter dan apoteker.

Pertumbuhan pasar OBA menunjukkan potensi besar, dengan nilai produksi diperkirakan mencapai Rp 3 triliun pada pertengahan 2024. Pangsa pasar OBA pada tahun 2023 mencapai 7-10% dari total pasar obat nasional, dan nilai ekspor mencapai 639,42 juta dolar AS dari Januari hingga September 2024.

Prof. Michael Heinrich menyoroti tantangan dalam transformasi OBA menjadi obat modern, termasuk proses penemuan obat yang panjang dan mahal. Ekstrak sebagai bahan aktif juga menimbulkan tantangan unik dibandingkan dengan senyawa sintetis. Protokol Nagoya dan peraturan terkait menambah kerumitan dalam pengembangan OBA.

Kurangnya ahli botani dan farmakognosi semakin memperburuk situasi, membuat ekstrak obat bahan alami sulit disetujui sebagai obat resmi. Namun, produk suplemen makanan dan obat-obatan alami (jamu) dapat menjadi alternatif yang lebih mudah diterima.

Dalam menghadapi tantangan ini, diperlukan kerjasama antara peneliti, industri, dan pemerintah untuk menciptakan kesepahaman dan standar yang jelas dari hulu ke hilir. Dengan demikian, potensi besar dari keanekaragaman hayati Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan obat alami.