Edukasi

Inovasi Bioteknologi: Solusi Krisis Pangan dengan Novel Foods

Riset bioteknologi kini berkembang pesat, menghadirkan inovasi yang bermanfaat dan berkelanjutan. Industri pangan bergerak menuju pengembangan novel foods, atau pangan baru, sebagai solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan konsumsi global.

Baca juga : Gianluigi Donnarumma Menjadi Pahlawan Manchester City dengan Penyelamatan Krusial

Keunggulan Novel Foods dalam Menjawab Kebutuhan Konsumen

Menurut Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo dari PSPG UGM, konsumen mulai memilih pangan baru karena faktor kesehatan dan gizi. Pangan ini menawarkan manfaat kesehatan seperti rendah kolesterol dan tinggi protein. Seminar di UGM menyoroti pentingnya pangan baru yang berkelanjutan dengan jejak karbon rendah dan etika perlakuan hewan.

Keterjangkauan harga juga menjadi alasan konsumen beralih ke pangan baru, seperti susu untuk lansia dan minuman berelektrolit. PSPG UGM fokus pada makanan dan suplemen berbasis probiotik, mengembangkan produk seperti Ken’s Pro, minuman sereal probiotik.

Peran Bioteknologi dalam Ketahanan Pangan

Dr. Rantih Asmana Ningrum dari BRIN menekankan bioteknologi sebagai kunci ketahanan pangan menghadapi krisis iklim dan sumber daya. Bioteknologi menjadi tameng menghadapi krisis seperti pandemi, dengan BRIN sebagai jembatan kolaborasi riset dan industri.

BRIN bertujuan meningkatkan kompetensi ilmuwan Indonesia di bidang bioteknologi, memindahkan inovasi dari laboratorium ke pasar. Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM, Dr. Hargo Utomo, menyatakan bahwa inovasi bioteknologi dapat menjembatani kerja sama akademisi dan industri, memperkuat kolaborasi.

Pengembangan novel foods melalui bioteknologi menawarkan solusi nyata untuk krisis pangan global. Dengan inovasi ini, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan dan sehat.